Hai Indah, apakah kau masih pesona semempenoana
savana diatas gunung? Aku yakin kau bertambah indah dan pesona, seperti alam
yang yang melepasakan matahari terbenam untuk menerangi wajah dunia yang lain. Aku
yakin kau tetap menjadi indah, bahasamu akan tetap indah, seperti gaya
pakayaanmu. Aku sangat yakin indah. Kau tetap indah.
Indah aku masih disini, ditempat yang
sama, tempat kita habisakan bertahun-tahun waktu. Tempat segala kisah kita
mulai dan kita akiri. Tempat dibangunya harapan, kisah, mimpi dan masa depan. Tempat
kita memlai pertikain karena hal receh atapun karena perbedaan aliran kita
dalam melihat sesuatu. Tempat kita berdamai ketika di alam raya, dijalanan kita
bersebrang pandangan. Hari- hariku suram, tidak lagi indah saat dirimu ada
disni Indah. Aku sekarang lupa
menghitung hari, mengingat tangal-tangal masehi yang berlalu begitu cepat. Aku lupa
tentag hari-hai yang indah, yang penuh dengan cerita alam raya seperti kita nikmat saat di punak gunung. Saya lupa
kapan terakir kalinya aku mencium aroma asinnya air laut. Pasir pantai yang
menyrntuh kulit tubuh yang semakin kurus ini. Aku sudah lupa semunya, bahkan
aku lupa sekarang hari apa.
Setiap bangun tidur, aku tidak penah
mendapatkan matahari berada diufuk timur, ataupun memandang matahari berlahan
memasuki alam tidurnya dan meneangi bumi yang lain. Hari-hariku seperti lukisan
absrtak satu warna yang tersimpan dikamar kecil ini. Aku menyesal kenapa aku
terima pemberianmu saat itu. Kalau kau bilang waktu itu bahwa lukisan itu
adalah penggati dirimu, atau sedikit memberi kode bahwa engkau akan pergi.
Kalau kau anggap aku hanya berimajinasi
atau hanya mengarang saja tentang keadaanku. Berpikir aku hanya mengarang agar
kau datang menjengukku dalam pesakitan di ruangan sempit ini, aku jelaskan
padamu aktivitasku. Aku mulai dari tidurku saja.
Selepas azan subuh, mataku mulai lelah
entah karena menatap lukisan-lukisan yang tergantung dinding kamar ini. Otakku masih terus mengoceh dan mendiskusikan
mengrnai lukisan-lukisanmu. Semua akan behenti dilukisan abstrak satu warna
yang datang mendiami paling akir. Entahlah, dia sangat misterius, semisterius
diriku. Seterlah duduk bersila
memandanginya, lalu pindah diatas kasur berbicara garis-garis itu menggabarkan
tentang hidupnya siapa? Saat tertentu aku yakin dan dengan argumen yang jelas
dalam bahasa sederhana, aku menjelasakan itu adaah garis jalan hidupku.
Berputar-putar, memebelok kekiri, lalu
kekiri lagi. Selalu kekiri, seperti tumpukan buku- bukuku yang selalu berbicara
tentang perjuangan kaum kiri, atau orang-orang kiri saja. Itulah komentarmu
mengenai buku- buku bacaanku. Kau marah
ketika tidak menemukan buku kesukaanmu, aku ingat kau pernah mememberatakan semua buku-buku itu
karena tidak kau temukan kitab suci yang kau cari, padahal aku sudah memeberi
kitab suci dari Agama lain, kau marah sekali waktu itu.
Aku sudah menemukan garis awalnya, tapi
tidak yakin itu awal atau akir, titik ujung itu berada dikiri pojok atas. Aku sudah
berhari-hari mendiskusikan dan berdebat tentang
garis itu, apakah itu awal atau itu akir. Atau itu adalah awal dan akir,
aku tidak bisa menyelesaikan masalah garis yang memiki ujung itu. Aku berdikusi
dan berdebat hampir satu minggu lebih, setiap malam sebelum tidur, setiap malam
lo. Aku menghabiskan dua gelas kopi hitam manggarai, setengah bungkus rokok.
Kau tau sebelum dikusi dan debat
malam-malam itu, aku harus mencari-cari refrensi dari tumpukan buku, dari
cata-catan harian. Dari kitab-kitab agar diskusi dan debat malamkku tidak
hamabar dan omong kosong. Kamu sendiri yang pernah bilang bahwa aku harus
memiliki refrensi ilmiah atau tulisan setiap argumen, biar tidak terkesan tong
kosong yang dipukul-pukul patatnya.
itu baru memebahas tenteng garis ujung
itu, belum lagi membahas tentang warna
lukisan itu, tentang siapa dalam lukisanmu itu, atau tentang apa sebenarnya
lukisan abstrak itu. Ayo tolong aku datang dan jelaskanlah lukisan itu.
Sebelum malam tiba aku sudah memebeli
bekal bekal malamku, terutama rokok. Setelah magrib aku biasayanya mandi, kalau
lagi pingin sih. Kalau tidak hanya mampir kamar mandi cucui muka lalu pergi
kewung diujing gang untuk memebli rokok dan beberapa makanan.
Saat bertemu ibu tua pemilik warung dia
hanya mengambil barag dan menanyakan hala-hal yang berkaitan dengan beljaanku,
namun tidak dengan suaminya, selalu saja mengajak saya untuk terlibat dalam
obrolan yang tidak enak dan salah, menurutku. Bahkan dia mau membutkan saya teh,
menawari saya rokok gatis, yang penting menemani dia ngobrol. Beberaakali saya
ladeni, dan yang terjadi bukan kita saling ngobrol tapi aku dipakasa duduk
untuk mendengar ocehanya, kisah-kisahnya
masa lalu. Pernah saya potong dan membahas politik masa lalu, lalu kami terlibat
dalam subauh debat panas, tidak seperti obrol santai dan diskusi, yang ada hanya
saling sanggah. Sebenanrnya dia sudah saya pojokkan, tapi argumennya kamu anak
kecil, tau apa kamu tentang masa lalu jangan sok menggurui orang tua sepertu
senja pemungkasnya untuk memebela diri.
Dia mungkin orang pemrintah dulunya,
tapi kelas palling bawah, pernah ditugaskan untuk mematai-matai daerah
tertentu. Tapi dia bukan intel, kalaupun dia intel, dia adalah mata-mata yang
payah. Dalam beberapa kasusu zamanya aku selalu bersebrangan denganya. Memahami
kata atau istilah tertentu juga selalu berbeda. Dan semua itu tidak penting,
yang penting adalah kamu harus pulang menemui aku dan menyelesaikan teka-teki
hidupku, hidupmu dan hidup kita.
Siang hari tidak begitu panas sekrang,
mungkin karena aku jarang kuar siang-
sinag. Menikmati panasnya matahari. Aku sering bangun saat matahari sudah
condong kebarat. Aku mengikuyimu bahawa jika tidur biarkan lelhmu pergu,
minimal aku harus tidur 6 jam perhari, dan saya sudah melakukan itu dengan
baik.
Apakah engkau punya gambaran dengan
kekecaun hidupku? Kuharap engkau sudah
mulai memahaminnya. Memang tidak banyak yang berubah, hanya saja aku
jarang mengirup oksigen di tengah hutan pinus atau bau lilin terbakar di gua
ganjuran. Walau aku tau ada rasa tidak nyaman dalam dirimu karena engkau
seorang muslim yang taat. Tapi sketsamu bagus sekalai menggabarkan gua dan
lilin itu. Memeng kita menjadi orang paling aneh diantara banyak orang yang
datang disitu, tapi mereka tidak memandang curiga ataupun sini pada kita.
Ayolah pulanglah sebentar, aku tidak
ingin hiudpku terus seperti coretan dalam lukisan abstrakmu itu. Satu yang
paling penting, kau pernah menagih tentang sejah hidupku, tentang kelurgaku,
tentang asal usul namaku, tentang kelurga besarku, sebab engkau ingin hidup
bersama dengan orang yang jelas, asal-usulunya.
Aku sudah ketemu semua yang kau
inginkan itu, pulangkah indah akan aku ceritakan semua tentang diriku,
keluarga, silsialah dan asal-usulku. Auku tunggu indah.
