Kamis, 21 Juni 2018

Lukisan Abstrak kekasihku






Hai Indah, apakah kau masih pesona semempenoana savana diatas gunung? Aku yakin kau bertambah indah dan pesona, seperti alam yang yang melepasakan matahari terbenam untuk menerangi wajah dunia yang lain. Aku yakin kau tetap menjadi indah, bahasamu akan tetap indah, seperti gaya pakayaanmu. Aku sangat yakin indah. Kau tetap indah.
Indah aku masih disini, ditempat yang sama, tempat kita habisakan bertahun-tahun waktu. Tempat segala kisah kita mulai dan kita akiri. Tempat dibangunya harapan, kisah, mimpi dan masa depan. Tempat kita memlai pertikain karena hal receh atapun karena perbedaan aliran kita dalam melihat sesuatu. Tempat kita berdamai ketika di alam raya, dijalanan kita bersebrang pandangan. Hari- hariku suram, tidak lagi indah saat dirimu ada disni Indah.  Aku sekarang lupa menghitung hari, mengingat tangal-tangal masehi yang berlalu begitu cepat. Aku lupa tentag hari-hai yang indah, yang penuh dengan cerita alam raya seperti  kita nikmat saat di punak gunung. Saya lupa kapan terakir kalinya aku mencium aroma asinnya air laut. Pasir pantai yang menyrntuh kulit tubuh yang semakin kurus ini. Aku sudah lupa semunya, bahkan aku lupa sekarang hari apa.
Setiap bangun tidur, aku tidak penah mendapatkan matahari berada diufuk timur, ataupun memandang matahari berlahan memasuki alam tidurnya dan meneangi bumi yang lain. Hari-hariku seperti lukisan absrtak satu warna yang tersimpan dikamar kecil ini. Aku menyesal kenapa aku terima pemberianmu saat itu. Kalau kau bilang waktu itu bahwa lukisan itu adalah penggati dirimu, atau sedikit memberi kode bahwa engkau akan pergi.
Kalau kau anggap aku hanya berimajinasi atau hanya mengarang saja tentang keadaanku. Berpikir aku hanya mengarang agar kau datang menjengukku dalam pesakitan di ruangan sempit ini, aku jelaskan padamu aktivitasku. Aku mulai dari tidurku saja.
Selepas azan subuh, mataku mulai lelah entah karena menatap lukisan-lukisan yang tergantung dinding kamar ini.  Otakku masih terus mengoceh dan mendiskusikan mengrnai lukisan-lukisanmu. Semua akan behenti dilukisan abstrak satu warna yang datang mendiami paling akir. Entahlah, dia sangat misterius, semisterius diriku.  Seterlah duduk bersila memandanginya, lalu pindah diatas kasur berbicara garis-garis itu menggabarkan tentang hidupnya siapa? Saat tertentu aku yakin dan dengan argumen yang jelas dalam bahasa sederhana, aku menjelasakan itu adaah garis jalan hidupku.
Berputar-putar, memebelok kekiri, lalu kekiri lagi. Selalu kekiri, seperti tumpukan buku- bukuku yang selalu berbicara tentang perjuangan kaum kiri, atau orang-orang kiri saja. Itulah komentarmu mengenai buku- buku bacaanku.  Kau marah ketika tidak menemukan buku kesukaanmu, aku ingat  kau pernah mememberatakan semua buku-buku itu karena tidak kau temukan kitab suci yang kau cari, padahal aku sudah memeberi kitab suci dari Agama lain, kau marah sekali waktu itu.
Aku sudah menemukan garis awalnya, tapi tidak yakin itu awal atau akir, titik ujung itu berada dikiri pojok atas. Aku sudah berhari-hari mendiskusikan dan berdebat tentang  garis itu, apakah itu awal atau itu akir. Atau itu adalah awal dan akir, aku tidak bisa menyelesaikan masalah garis yang memiki ujung itu. Aku berdikusi dan berdebat hampir satu minggu lebih, setiap malam sebelum tidur, setiap malam lo. Aku menghabiskan dua gelas kopi hitam manggarai, setengah bungkus rokok.
Kau tau sebelum dikusi dan debat malam-malam itu, aku harus mencari-cari refrensi dari tumpukan buku, dari cata-catan harian. Dari kitab-kitab agar diskusi dan debat malamkku tidak hamabar dan omong kosong. Kamu sendiri yang pernah bilang bahwa aku harus memiliki refrensi ilmiah atau tulisan setiap argumen, biar tidak terkesan tong kosong yang dipukul-pukul patatnya.
itu baru memebahas tenteng garis ujung itu, belum lagi membahas tentang  warna lukisan itu, tentang siapa dalam lukisanmu itu, atau tentang apa sebenarnya lukisan abstrak itu. Ayo tolong aku datang dan jelaskanlah lukisan itu.
Sebelum malam tiba aku sudah memebeli bekal bekal malamku, terutama rokok. Setelah magrib aku biasayanya mandi, kalau lagi pingin sih. Kalau tidak hanya mampir kamar mandi cucui muka lalu pergi kewung diujing gang untuk memebli rokok dan beberapa makanan.
Saat bertemu ibu tua pemilik warung dia hanya mengambil barag dan menanyakan hala-hal yang berkaitan dengan beljaanku, namun tidak dengan suaminya, selalu saja mengajak saya untuk terlibat dalam obrolan yang tidak enak dan salah, menurutku. Bahkan dia mau membutkan saya teh, menawari saya rokok gatis, yang penting menemani dia ngobrol. Beberaakali saya ladeni, dan yang terjadi bukan kita saling ngobrol tapi aku dipakasa duduk untuk  mendengar ocehanya, kisah-kisahnya masa lalu. Pernah saya potong dan membahas politik masa lalu, lalu kami terlibat dalam subauh debat panas, tidak seperti obrol santai dan diskusi, yang ada hanya saling sanggah. Sebenanrnya dia sudah saya pojokkan, tapi argumennya kamu anak kecil, tau apa kamu tentang masa lalu jangan sok menggurui orang tua sepertu senja pemungkasnya untuk memebela diri.
Dia mungkin orang pemrintah dulunya, tapi kelas palling bawah, pernah ditugaskan untuk mematai-matai daerah tertentu. Tapi dia bukan intel, kalaupun dia intel, dia adalah mata-mata yang payah. Dalam beberapa kasusu zamanya aku selalu bersebrangan denganya. Memahami kata atau istilah tertentu juga selalu berbeda. Dan semua itu tidak penting, yang penting adalah kamu harus pulang menemui aku dan menyelesaikan teka-teki hidupku, hidupmu dan hidup kita.
Siang hari tidak begitu panas sekrang, mungkin karena  aku jarang kuar siang- sinag. Menikmati panasnya matahari. Aku sering bangun saat matahari sudah condong kebarat. Aku mengikuyimu bahawa jika tidur biarkan lelhmu pergu, minimal aku harus tidur 6 jam perhari, dan saya sudah melakukan itu dengan baik.
Apakah engkau punya gambaran dengan kekecaun hidupku? Kuharap engkau sudah  mulai memahaminnya. Memang tidak banyak yang berubah, hanya saja aku jarang mengirup oksigen di tengah hutan pinus atau bau lilin terbakar di gua ganjuran. Walau aku tau ada rasa tidak nyaman dalam dirimu karena engkau seorang muslim yang taat. Tapi sketsamu bagus sekalai menggabarkan gua dan lilin itu. Memeng kita menjadi orang paling aneh diantara banyak orang yang datang disitu, tapi mereka tidak memandang curiga ataupun sini pada kita.
Ayolah pulanglah sebentar, aku tidak ingin hiudpku terus seperti coretan dalam lukisan abstrakmu itu. Satu yang paling penting, kau pernah menagih tentang sejah hidupku, tentang kelurgaku, tentang asal usul namaku, tentang kelurga besarku, sebab engkau ingin hidup bersama dengan orang yang jelas, asal-usulunya.
Aku sudah ketemu semua yang kau inginkan itu, pulangkah indah akan aku ceritakan semua tentang diriku, keluarga, silsialah dan asal-usulku. Auku tunggu indah.


  

Kamis, 24 Mei 2018

Pondik

Ada begitu banyak orang yang tak tau kapan dan dimana ia dilahirkan. Saat siang hari atau saat malam hari yang gelap gulita, tanpa cahaya bulan ataupun bintang. atau mungkin keluar dari dari rahim saat bulan purnama dan bintang yang mempesona dilangit malam. Ada yang lahir namun ditinggal pergi oleh ibu do kubangan lumpur. Ada pula yang datang di bumi yang fana ini di ruangan sempit dengan bau pesing, disamping kloset yang jorok lalau ibunya pergi tanpa meninggalkan puting susunya untuk dihisap. Terlalu banyak sahabat yang nasibnya kurang beruntung seperti aku. lahir tanpa belain kasih sayang ibu atau tangan halus dan pisau tajam dari dokter. ah itu semuakan lahir zaman moderen sekarang. sementara aku sendiri lahir ditengah dunia yang buta peradabaan, hingga aku sendiri tak tau tanggal berapa aku lahir? bulan apa? siang atau malam.
Ditengah hutan, tidak aku bukan binatang rimba raya, aku manusia. Lahir ditengah kampung yang jauh dari peradaban moderen, tapi aku bukan suku anak dalam seperti kisah di sebereng lautan. Ibuku tak tau. Tepatnya tidak pernah menceriterakan proses kelahiranku, jadi hingga samapai mati aku tidak akan tau berapa umurku, dan tentu tidak ada perayaan ulang tahun.
Tuhan memeng menghendaki aku untuk numpang hidup aja dibumi, tak perlu banyak tau, termasuk tentang Tuhan itu sendiri.
Dalam ketidaktaun dan ketidak jelasan itu, ternyata aku tidak sendiri, banyak manusia yang bernasib  sama seperti aku. Mungkin aku masih beruntung, karena masih merasakan belain tangan ibuku, susu murni yang aku hisap dari Ibuku, walau terkadang harus berubut sama bapakku. Aku masih merasakan tangan kasar bapakku yang terkang mengulus- elus kepalaku. seringnya tamaparan di pantat.
aku lahir di kampung ini dan dibesarkan dikampung ini juga. gambarku tak tau persisnya seperti apa modelnya, sebab aku hanya bisa melihat wajah garang ini dipantulan air. memang tidak beruntung seperti anak zaman sekarang yang hanya bisa menghisap susu murni dari puting ibunya tapi sudah punya akun sosial media sendiri.
foto-fotonya terpajang di Instragam, atau di Facebook, padahal untuk pipis saja tidak tau. tapi sudah punya akun dan terkenal di seantero dunia. Bersukurlah kalian yang lahir dimasa kini, tentu kalian yang merasakan dinginnya AC rumah sakit, merasakan tangan halusnya suster yang menggati popok, oh bukan popok pempers.
Kami dari golongan terbuang oleh kisah dan kasih, yang terlahir dari sebuah rasa nafsu yang tidak bertanggung jawab. yang hanya merasakan selangkangan ibu saat keluar dari rahimnya tanpa menikmati puting susunya, apalagi tangan halusnya dokter dan suster. Kami dilahirkan bukan atas kehendak manusia, namun kehendak Alam raya dan Tuhanku, karena ibu dan bapak ku hanya memiliki nafsu semata.
Dari ujung tanah ini, dari dalam goa yang indah ini aku membawamu dalam kisah hidupku. kelak suara dari Goa, di tembing inenceres aku bersuara. Dengarkan suara dari Goa, goa yang penuh dengan lumut kebosanan.

Inenceres
Pondik

Kamis, 25 Januari 2018