Ada begitu banyak orang yang tak tau kapan dan dimana ia dilahirkan. Saat siang hari atau saat malam hari yang gelap gulita, tanpa cahaya bulan ataupun bintang. atau mungkin keluar dari dari rahim saat bulan purnama dan bintang yang mempesona dilangit malam. Ada yang lahir namun ditinggal pergi oleh ibu do kubangan lumpur. Ada pula yang datang di bumi yang fana ini di ruangan sempit dengan bau pesing, disamping kloset yang jorok lalau ibunya pergi tanpa meninggalkan puting susunya untuk dihisap. Terlalu banyak sahabat yang nasibnya kurang beruntung seperti aku. lahir tanpa belain kasih sayang ibu atau tangan halus dan pisau tajam dari dokter. ah itu semuakan lahir zaman moderen sekarang. sementara aku sendiri lahir ditengah dunia yang buta peradabaan, hingga aku sendiri tak tau tanggal berapa aku lahir? bulan apa? siang atau malam.
Ditengah hutan, tidak aku bukan binatang rimba raya, aku manusia. Lahir ditengah kampung yang jauh dari peradaban moderen, tapi aku bukan suku anak dalam seperti kisah di sebereng lautan. Ibuku tak tau. Tepatnya tidak pernah menceriterakan proses kelahiranku, jadi hingga samapai mati aku tidak akan tau berapa umurku, dan tentu tidak ada perayaan ulang tahun.
Tuhan memeng menghendaki aku untuk numpang hidup aja dibumi, tak perlu banyak tau, termasuk tentang Tuhan itu sendiri.
Dalam ketidaktaun dan ketidak jelasan itu, ternyata aku tidak sendiri, banyak manusia yang bernasib sama seperti aku. Mungkin aku masih beruntung, karena masih merasakan belain tangan ibuku, susu murni yang aku hisap dari Ibuku, walau terkadang harus berubut sama bapakku. Aku masih merasakan tangan kasar bapakku yang terkang mengulus- elus kepalaku. seringnya tamaparan di pantat.
aku lahir di kampung ini dan dibesarkan dikampung ini juga. gambarku tak tau persisnya seperti apa modelnya, sebab aku hanya bisa melihat wajah garang ini dipantulan air. memang tidak beruntung seperti anak zaman sekarang yang hanya bisa menghisap susu murni dari puting ibunya tapi sudah punya akun sosial media sendiri.
foto-fotonya terpajang di Instragam, atau di Facebook, padahal untuk pipis saja tidak tau. tapi sudah punya akun dan terkenal di seantero dunia. Bersukurlah kalian yang lahir dimasa kini, tentu kalian yang merasakan dinginnya AC rumah sakit, merasakan tangan halusnya suster yang menggati popok, oh bukan popok pempers.
Kami dari golongan terbuang oleh kisah dan kasih, yang terlahir dari sebuah rasa nafsu yang tidak bertanggung jawab. yang hanya merasakan selangkangan ibu saat keluar dari rahimnya tanpa menikmati puting susunya, apalagi tangan halusnya dokter dan suster. Kami dilahirkan bukan atas kehendak manusia, namun kehendak Alam raya dan Tuhanku, karena ibu dan bapak ku hanya memiliki nafsu semata.
Dari ujung tanah ini, dari dalam goa yang indah ini aku membawamu dalam kisah hidupku. kelak suara dari Goa, di tembing inenceres aku bersuara. Dengarkan suara dari Goa, goa yang penuh dengan lumut kebosanan.
Inenceres
Pondik